Switch to English
Down to Earth Nr. 64 Maret 2005

Diperlukan Rekonstruksi Berbasis Komunitas

Bagi banyak korban selamat dari bencana tsunami yang memusnahkan rumah dan mata pencaharian pada tanggal 26 Desember, pembangunan kembali kehidupan mereka berarti memulai segalanya dari awal. Apa yang masih tersisa dari masyarakat yang porak poranda dan siapa yang menentukan apa yang akan terjadi kemudian?

Organisasi masyarakat sipil Aceh menyoroti kebutuhan prioritas bagi masyarakat korban yaitu berpartisipasi dalam proses rekonstruksi dan pemulihan kembali, dan kebutuhan akan adanya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana. Mereka menginginkan perlindungan HAM - termasuk di dalamnya hak atas tanah dan sumber daya alam; hak korban tsunami untuk kembali ke rumah dan kembali membangun kehidupan mereka; meningkatnya status kedaruratan sipil di Aceh dan keterlibatan masyarakat Aceh dalam negosiasi untuk mengakhiri konflik bertahun-tahun di Aceh.

Pada pertemuan kelompok negara kreditur Indonesia (CGI) di bulan Januari, Menteri Perencanaan Pembangunan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa fokus atau strategi rekonstruksi mencakup memulihkan kehidupan dan penghidupan masyarakat, memperbaiki infrastruktur dan ekonomi, dan memulihkan jalannya pemerintahan lokal. "Kami perlu menyediakan perumahan baru, pelayanan medis dan pendidikan, dan pekerjaan baru sesegera mungkin' kata menteri. (Pernyataan Pers Menteri Koordinator Ekonomi Jan/05)

Hal ini sejalan dengan rekomendasi dalam Perkiraan Awal atas Kerusakan dan Kerugian dari BAPPENAS (Preliminary Damage and Loss Assessment-PDLA- lihat artikel: after the tsunami), yang menyatakan bahwa prioritas rekonstruksi haruslah terletak pada cara memulihkan mata pencaharian dan struktur sosial masyarakat yang telah hancur, termasuk perumahan dan tempat penampungan, mendorong kegiatan usaha, menciptakan perdagangan dan pendapatan, membangun kembali mata pencaharian desa -pertanian dan nelayan- menyediakan pelayanan publik, dan membantu pihak-pihak yang menjadi rentan-yaitu ibu tunggal dan yatim piatu.

Cetak biru pemerintah untuk rekonstruksi, bersama dengan perkiraan (assessment) Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) tentang kebutuhan finansial, akan siap pada bulan Maret.

Pada tanggal 1 Maret 2005, Gubernur Aceh Azwar Abubakar secara resmi membuka proses konsultasi publik untuk 'cetak biru rekonstruksi'. Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan (UNCHA) melaporkan bahwa hasil dari konsultasi sembilan hari dengan 10 kelompok tema akan diteruskan kepada pemerintah pusat di Jakarta, dengan penyelesaian akhir cetak birunya diharapkan selesai pada pertengahan bulan Maret. UNDP dan Bank Dunia mendanai proses ini dan menyediakan tenaga ahlinya (Laporan dari Office for the Coordination of Humanitarian Affairs - OCHA 31,1/Mar/05).

Yang Jadi Keprihatinan
Namun demikian, keadaan di lapangan jauh berbeda. Tanggapan pemerintah atas keadaan darurat dan perencanaan rekonstruksi berlangsung secara top-down (dari atas ke bawah) dan lebih didominasi oleh kepentingan keamanan daripada memberi ruang bagi inisiatif masyarakat.

Organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam diskusi tentang rekonstruksi telah menaruh perhatian yang lebih besar atas sejumlah hal yang berhubungan dengan korban tsunami. Beberapa keprihatinan tersebut adalah sebagai berikut.


Daftar isi Buletin DTE    DTE Homepage    Advokasi    Link